Showing posts with label News. Show all posts
Showing posts with label News. Show all posts

Saturday, December 27, 2014

-=Welcome to Wood Fluor / Powder Delima Mas Indonesia=-

Dear Hello ! 


We are from Indonesia and we are sell and produce manufacturer the (Grajen) wood flour (sawdust) / wood powder / Teak / Mahogany / Mixed / Borneo Wood / Wood java / albasiah / Merbaung / Trembesi / Camphor / Sticky etc, with a fineness of 60 mesh, 80 mesh, 140 mesh up as a customer request with a production capacity 1000 - 2500 tons per month and Ready to Export for +5000 ton / month to Worldwide Shipment All round the World's. 

We are here to serving you !

shipment3.jpg (360×249)

For more further information 

Please Call us now on Here

Friday, December 19, 2014

Tepung Kayu, Dari Limbah Jadi Berkah

Tepung Kayu, dari limbah bisa dijadikan beragam produk Berbagai produk industri dan konsumen dapat diturunkan dari berbagai limbah kayu biasa. Mereka memiliki aplikasi dalam produk kayu komposit, sebagai pengisi dalam plastik dan perekat, dan sejumlah produk industri dan konsumen lainnya. Limbah kayu sering yang dibakar (dibakar), fermentasi (untuk membuat metana atau alkohol) atau digunakan dalam bioreaktor (untuk membuat karbon dan hidrogen) untuk produksi energi, bahan bakar atau bahan kimia industri.
Salah satu produk dari limbah penggergajian kayu adalah “tepung kayu”. CV Delima Mas  menyediakan tepung kayu dengan kualifikasi mesh 80 kualitas ekspor untuk kebutuhan anda. Silahkan kontak kami di halaman ini untuk informasi lebih lanjut.



Sehubungan dengan produksi energi, industri hasil hutan mengkonsumsi 85 persen dari semua limbah kayu yang digunakan untuk produksi energi di Amerika Serikat. Penggunaan luas dari sumber daya biomassa akan langsung menguntungkan banyak perusahaan hasil hutan yang pertumbuhannya menghasilkan residu lebih dari yang mereka gunakan secara internal. Ini kelebihan bahan memiliki potensi untuk menjadi dasar bagi usaha mendukung ekspansi ke produk komposit-bahan manufaktur dan skema pemanfaatan co-produk serupa nilai tambah. Sebagian besar produksi listrik dari biomassa yang dikonsumsi di tempat, dengan beberapa produsen menjual kelebihan daya ke dalam grid publik. Secara keseluruhan, 70 persen atau lebih dari daya limbah kayu adalah co-dihasilkan dengan panas proses industri.

Berbagai dampak sosial akibat dari penggunaan biomassa untuk pembangkit listrik. Kekuatan pasar berubah bagaimana industri listrik AS fundamental beroperasi. Limbah kayu dan biomassa pertanian, tenaga angin, limbah kota dan sejumlah bahan baku lainnya membentuk kembali bagaimana listrik diproduksi, didistribusikan, dibeli dan dijual. Daya pemasar dipaksa untuk menawarkan listrik ramah lingkungan, termasuk bio-kekuatan yang, setidaknya sebagian, co-dihasilkan dari pembakaran halaman perkotaan dan limbah kayu konstruksi.

Pemain baru yang penting mungkin masyarakat pertanian. Penggunaan residu tanaman, pupuk ternak dan rotasi pendek-intensif-budaya (SRIC) penanaman tumbuh cepat “kayu rumput” spesies pohon sebagai sumber bahan bakar dapat meningkatkan ekonomi pertanian sementara memecahkan beberapa masalah lingkungan yang paling keras di bidang pertanian hari ini. Dalam sistem SRIC, “kayu rumput” spesies dibudidayakan dan kemudian terkelupas di tempat untuk digunakan dalam produksi energi (dengan pembakaran) atau manufaktur produk kayu (komposit). Munculnya tanaman energi untuk produksi listrik adalah pasar pertanian baru. Namun, tanaman ini memberikan konservasi tanah dan manfaat pengelolaan hara tanah dan mungkin tidak kompatibel dengan program insentif konservasi pemerintah set-samping. Peningkatan pemanfaatan kayu-biomassa akan berdampak kelompok lainnya, termasuk arsitektur dan rekayasa perusahaan, konsultan, dan pengolahan dan penanganan vendor peralatan.

Penggunaan – serutan dan Tepung Kayu

Serutan dan serbuk gergaji mungkin reground menjadi tepung kayu, atau tepung kayu dapat pulih seperti ukuran “debu” bahan yang telah disaring dan dipisahkan. Tepung kayu memiliki pasar industri utama di industri pengisi, pengikat dan extender dalam produk industri seperti epoxy resin, pupuk, perekat, bahan penyerap, merasa atap, komponen lembam peledak, keramik, ubin lantai, produk pembersih, pengisi kayu, caulks dan putties, tanah Extenders dan array yang luas dari plastik. Beberapa tepung kayu seperti mesquite dapat digunakan dalam perasa dimakan untuk konsumsi manusia atau hewan peliharaan.

Serutan dan tepung kayu dapat dipasarkan untuk digunakan dalam produk kayu komposit dibentuk atau dilaminasi (misalnya, kursi toilet, meja) dalam bahan otomotif dan minyak dan air isolasi dan produk pemadatan untuk industri pengendalian lingkungan. Kegunaan lain termasuk pengisi, curah serutan, serbuk gergaji, babi bakar (serutan kulit kering), chip daging asap rokok, bahan bakar memasak barbeque dan log perapian komposit. Aplikasi lansekap meliputi taman bermain “pijakan,” berkuda arena dan lainnya “kayu tepi pijakan” (margin keamanan dan material jalan setapak) dan beberapa pameran dan tradeshow aplikasi
Saat ini, penggunaan utama dari serutan kayu kering diterjunkan adalah untuk kuda dan ternak tidur atau kecil aplikasi tempat tidur hewan peliharaan. Ini biasanya mengambil bentuk bahan aromatik dari timur cedar merah, lembut pinus ponderosa, klorofil pinus dan aspen. Dalam beberapa kasus, produk-produk kayu yang dicampur dengan “non-kayu” residu pertanian seperti tongkol jagung. Produk ini dapat dibuat untuk hewan peliharaan tertentu seperti anjing, kucing, hamster dan gerbil atau hewan kecil lainnya. Terkait produk mungkin termasuk liners kotak sampah, semua tisu alami, dan bau dan noda eliminator.

Cara Menghitung Kubikasi Kayu

Bagi anda yang berkecimpung dalam dunia perkayuan, pasti sangat penting bagi anda untuk mengetahui cara menghitung kubikasi kayu. Kubikasi kayu sendiri adalah nilai besaran volume yang ada pada kayu, dan nilai satuannya menggunakan meter kubik (M3). Dengan mengetahui nilai kubikasi dari sebuah kayu, maka kita juga dapat menafsir atau mengetahui harga kayu tersebut berdasarkan nilai kubikasinya.



Cara yang digunakan untuk menghitung kubikasi pada kayu log atau gelondong berbeda dengan cara untuk menghitung kubikasi kayu gergajian atau kayu yang sudah berbentuk papan. Hal ini dikarenakan secara fisik bentuk antara keduanya berbeda. Jadi masing-masing mempunyai rumus sendiri-sendiri untuk menghitung nilai kubikasinya.

Untuk cara menghitung kubikasi kayu log atau gelondong
rumus yang biasa digunakan adalah (P x D x D x 0,7854) : 10.000 = nilai kubikasi

Keterangan :

cara menghitung kubikasi kayu P adalah panjang kayu yang dinyatakan dalam satuan meter
D adalah diameter kayu yang dinyatakan dalam satuan cm
Contoh kasus : Jika seseorang akan membeli sebuah kayu yang masih berupa gelondong dengan ukuran diameter 25 cm dan panjangnya 2 meter maka, jika menggunakan rumus di atas, nilai kubikasi yang terdapat pada kayu adalah (2 x 25 x 25 x 0,7854) : 10.000 = 0,098175 M3.

Jadi, besarnya nilai kubikasi pada satu gelondong kayu yang akan dibeli oleh orang tersebut sebesar 0,098175 atau hampir sepersepuluh kubik.

Nb: Nilai kubikasi kayu yang diperoleh dengan menggunakan rumus ini hampir sama (sedikit lebih rendah) dengan nilai kubikasi kayu yang ada pada tabel kubikasi kayu log perhutani. Atau jika anda tidak ingin capek-capek menghitung dengan menggunakan rumus, anda bisa melihat langsung pada tabel milik perhutani di tabel kubikasi perhutani.

Sedangkan untuk rumus atau cara menghitung kubikasi kayu gergajian atau papan
rumus yang digunakan adalah (T x L x P) : 10.000 = nilai kubikasi
Keterangan :

T adalah tebal papan kayu yang dinyatakan dalam satuan cm
L adalah lebar papan kayu yang dihitung dalam satuan cm
P adalah panjang papan kayu yang dihitung dalam satuan meter
Contoh kasus : pada satu papan kayu dengan ukuran tebal 4 cm, lebar 25 cm dan panjang 2 meter, maka besarnya kubikasi pada papan kayu tersebut jika menggunakan rumus di atas adalah (4 x 25 x 2) : 10.000 = 0,02 M3 atau butuh 50 lembar papan untuk mencapai satu kubik.

Cara-cara menghitung kubikasi kayu di atas tidak hanya untuk jenis-jenis kayu tertentu melainkan bisa diterapkan pada semua jenis kayu komersial lainnya, seperti kayu jati, kayu sengon, kayu mindi, kayu mahoni dll.

Perusahaan Pembuat Dupa Vietnam Aktif Mengekspor ke Indonesia

​Guna memenuhi persyaratan pengajuan Angka Pengenal Impor (API), Fungsi Ekonomi KJRI HCMC pada 31 Juli 2013 telah melakukan peninjauan dan verifikasi perusahaan Duc Hoa Joint Stock., Co. Perusahaan ini membuat dupa dan berbagai kebutuhan ritual keagamaan lainnya.
Duc Hoa Joint Stock Co., selain memenuhi kebutuhan domestik, juga aktif melakukan ekspor produknya ke Indonesia, Singapura, Taiwan, Cina, Malaysia dan Thailand. Sebagai importir dan rekanan di Indonesia adalah CV. Jaya Usaha Mandiri di Medan, Sumatera Utara, merupakan perusahaan pengimpor produk dupa tersebut. Kerjasama antara perusahaan Indonesia dengan Vietnam tersebut telah dilakukan selama 5 (lima) tahun.



Dupa1.jpg


 
Duc Hoa Joint Stock Co., telah melakukan ekspor ke Indonesia sebanyak 2 (dua) kali dalam setahun. Rata-rata volume ekspor mencapai 20 ton dan puncak permintaan untuk produk ritual keagamaan tersebut umumnya terjadi pada saat menjelang hari raya Imlek. Sementara itu, nilai kontrak jual-beli antara Duc Hoa dengan CV. Jaya Usaha Mandiri untuk periode pengiriman bulan Juni sampai Desember 2013 mencapai US$ 40.700,-. Dalam waktu dekat Duc Hoa juga akan mengekspor mesin produksi yang selama ini digunakannya ke Indonesia. Seluruh bahan baku dan mesin produksi yang digunakan untuk pembuatan dupa merupakan buatan lokal.

Kegiatan ke pabrik Duc Hoa Joint Stock Co  dilakukanuntuk menilai secara langsung eksistensi maupun kapasitas serta mekanisme kerjasama ekspor-impor antara kedua belah pihak. Selain itu, peninjauan juga dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kegiatan manipulasi dagang yang dapat merugikan citra dan hubungan kerjasama Indonesia-Vietnam.

 Dupa2.jpg

Staf Fungsi Ekonomi KJRI HCMC menggali keterangan mengenai produk dupa yang akan diekspor

Dalam menjalankan kegiatan operasional harian, Duc Hoa mempekerjakan 55 buruh kerja yang semuanya merupakan masyarakat sekitar dimana perusahaan berdomisili. Setelah beroperasi selama 10 (sepuluh) tahun dan seiring dengan meningkatnya produksi maka pihak perusahaan berencana untuk merelokasi pabrik dari lokasi saat ini ke lahan yang lebih luas di provinsi Long An.

Dari bentuk kegiatan dan proses usaha yang dilaksanakan perusahaan ini yaitu mengolah bahan baku lokal menjadi produk jadi yang memiliki nilai tambah, kelihatannya perlu didorong agar kegiatan atau proses produksi yang sama dapat dilakukan di Tanah Air. Untuk itu, perlu kiranya berita ini dapat menjadi masukan bermakna agar dapat digunakan memajukan kegiatan usaha dalam negeri.


Awas jangan sampai kalah saing ya ;)

Imlek Berkah Bagi Ratusan Perajin Lidi Dupa di Ponorogo

Berkah tahun baru Imlek yang jatuh pada 10 Pebruari 2013, tidak hanya dirasakan kaum Tionghoa (Cina) yang merayakan. Akan tetapi, menjelang pergantian tahun baru ini, juga menjadi berkah emas tersendiri bagi ratusan perajin lidi (biting) dupa hio yang ada di sentra kerajinan lidi Desa Sriti, Desa Temon, Desa Tumpak Pelem, serta Desa Tempuran, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo.
Ini menyusul sejak sebulan menjelang Imlek, harga lidi produksi mereka harganya naik 35 persen yakni dari Rp 2.200 per kilogram, kini naik menjadi Rp 3.000 per kilogram.
Karena itulah, ratusan perajin lidi di wilayah perbatasan Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo dan Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek ini, setiap hari sibuk menyelesaika pesanan lidi dupa hio yang biasanya berwarna merah itu.
Apalagi, hasil produksi mereka, tidak hanya untuk kalangan pemesan asal Karasidenan Madiun, akan tetapi juga sampai Semarang, Jakarta, Bali, serta impor ke Negara Cina.
Sentra industri lidi itu, tidak hanya sejak kali ini. Akan tetapi, sudah digeluti secara turun temurun sejak Tahun 1990 silam atau sejak harga lidi dupa hio masih dihargai Rp 500 sampai Rp 600 per kilogram. Warga semakin bersemangat mengembangkan usaha ini, karena mampu mendongkrak perekonomian warga serta mampu menyekolahkan anak-anak mereka dari usaha kerajinan lidi itu.
Salah seorang perajin lidi dupa hio, Subandi (40) warga RT 04, RW 04, Dusun Tawang, Desa Sriti, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo mengaku sudah menemuki usaha ini sejak Tahun 1990 lalu. Baginya berkah menjadi perajin lidi bukan hanya dirasakan saat hendak menjelang Tahun Baru Imlek. Akan tetapi, hampir dirasakan setiap hari. Namun sejak sebulan menjelang Tahun Baru Imlek harga lidi dupa hio naik 35 persen dari sebelumnya seharga Rp 2.200 per kilogram kini dihargai tengkulak dan pengepul Rp 3.000 per kilogram.
"Meski setiap rumah menjadi perajin lidi dupa, tidak akan kekurangan bahan baku karena pengepul juga menyediakan bahan baku. Bambu per batang Rp 6.000 sampai Rp 7.000, jika kami kerjakan menjadi lidi dupa akan menjadi skeitar 15 kilogram lidi. Oleh karenanya saat permintaan naik dan harga naik, kami semakin bersemagat memproduksi," terangnya kepada Surya, Kamis (7/2/2013).
Selain itu, Subandi menjelaskan jika mampu menyekolahkan ketiga anaknya, membeli motor dan lain sebagianya merupakan hasil kerajinan lidi dupa. Jika mengandalkan berkebun dan ke sawah yang masa tanam padinya setiap setahun sekali, dia mengaku tak bakal mampu menyekolahkan ketiga anaknya.
"Jika butuh uang membayar sekolah sewaktu-waktu masih bisa dijualkan lidi dupa 10 sampai 20 kilogram sesuai kebutuha kami," paparnya.
Hal senada disampaikan pasangan suami istri Sujarno (40) dan Jemitri (35) warga RT 01, RW 01, Dusun Dasri, Desa Sriti. Meski sudah memiliki toko klontong di rumahnya, mereka berdua masih tetap menekuni usaha kerajinan lid dupa ini sejak tahun 1991 silam.
Pasangan suami istri ini setiap harinya dibantu orangtuanya, Giyem (60) serta anaknya sepulang sekolah. Menurut Sujaro kendala dalam produksi lidi dupa adalah kurangnya peralatan yang bisa membantu mempercepat hasil penghalusan lidi dupa.
Bahkan Sujarno dan ratusan perajian lainnya, dulu membersihkan rautan lidi hanya menggunakan kaki denga cara lidi diinjak-injak dengan kaki. Namun, sekarAng sudah mulai membuat alat untuk membersihkan serabut bambu dengan mesin diesel berbahan bakar bensin.
"Karena tak ada bantuan dari Pemkab Ponorogo, kami merakit mesin penghalus lidi ini dengan modal Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta. Tidak hanya kami, bantuan alat dan permodalan tidak pernah turun di empat desa sentra kerajinan lidi ini. Kami mampu memenui pesanan Negara Cina, Pulau Bali, Jakarta, Semarang dan Surabaya tetapi Pemkab Ponorogo tidak pernah menengok kami," paparnya.
Sementara Jemitri menambahkan setiap bahan baku berupa bambu datang, pihaknya sellau mengambil bahan bambu minimal Rp 400.000. Namun, tidak sampai sebulan, saat sudah menjadi lidi dupa, mampu menghasilkan uang sekitar Rp 1 juta lebih.

Winie Kaori, Harum Bisnis Semerbak Dupa

Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota, S.E.
THE POWER OF BALINESE WOMAN IN LOCAL INCENSE INDUSTRY

IMG_3703
Sebuah keputusan besar telah diambil oleh Ibu muda Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota, S.E. untuk mendirikan sebuah usaha dupa yang lantas terkenal dengan sebutan Dupa Kaori. Berbagai terobosan dan inovasi pun mengantarkan produk Dupa Kaori sebagai salah satu yang diperhitungkan dalam industri dupa lokal di Bali. Salah satu produk dupa uniknya berlabelkan “dipasupati” justru menjadi sebuah daya tarik tersendiri, disamping kegunaannya yang sangat positif bagi masyarakat Hindu Bali. Sama halnya dengan sektor bisnis lainnya, bisnis dupa pun memiliki lika-liku perjalanannya sendiri. Wanita lulusan S1 Fakultas Ekonomi Universitas Udayana ini mengawali bisnisnya dari sebuah home industry dengan skala nol sampai akhirnya sukses mengibarkan brand Kaori sebagai spesialisasi dupa di Bali. Mantan Jegeg Bali 2005 yang kini juga disibukkan sebagai Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) ini berbagi pengalamannya perihal bisnis dupa serta beragam hobinya yang menarik perhatian. Kepada Putra Adnyana reporter ‘Money & I’, Kaori pun blak-blakkan mengupas habis bisnis dupa serta passionnya di bidang lain.

Bagaimana ide bisnis dupa Kaori ini berawal? Kenapa Dupa?
Bisnis ini dimulai dari tahun 2009. Awalnya malah berasal dari bisnis kecil-kecilan di garasi rumah. Ide dupa ini muncul dari hobi saya yang suka sembahyang, hahahahaa…! Pengalaman saya di keluarga saya, barangkali seluruh keluarga Hindu di Bali yang sering bersentuhan dengan kegiatan keagamaan, dimana dupa menjadi salah satu sarana prasarana yang wajib diadakan. Dimana-mana kalau sembahyang pasti selalu bawa dupa. Enggak afdol kalau sembahyang gak ngidupin dupa. Tapi masalah yang kemudian saya temukan, kok dupa yang sudah dihidupkan cepat sekali habis. Dari sana saya ingin membuat sesuatu yang berbeda. Kelengkapan dupa dalam sebuah persembahyangan umat Hindu itu penting adanya.
Bagaimana jatuh bangun mengawali usaha dupa Kaori ini?
Awalnya saya tak ingin menunda-nunda untuk bikin usaha ini. Saya nekat dengan modal 500 ribu rupiah, saya membeli bahan-bahan untuk membuat dupa. Saya lakukan semua di garasi rumah saya. Dengan modal 500 ribu itu saya bisa membuat 850 bungkus dupa. Ya nggak balik modal sih, karena saya malah membagi-bagikannya kepada orang-orang di dekat rumah sebagai promosi awal. Tapi dari modal 500 ribu itu saya punya bayangan biaya produksi, harga jual dan jumlah keuntungannya. Inilah seninya jadi pengusaha, bisa mengatur sendiri harga jual produknya. Selain itu memberikan banyak pengalaman melalui trial and errorsemacam ini, membuat saya belajar banyak tentang bisnis. Terutama mengenai bisnis dupa. Saya banyak mengamati trik marketing produk-produk dupa lainnya.
Lantas siapa yang mendorong Ibu untuk fokus terjun ke bisnis dupa ?
Saya sih sering berunding dan minta pendapat dengan suami saya tentang bagaimana kalau kita bisnis dupa saja. Suami pun mendukung. Pertimbangan kami sih karena kebutuhan dan permintaan terhadap dupa di Bali itu sendiri bisa mencapai berton-ton lebih. Apalagi di lihat dari jumlah penduduk Bali yang hampir 3,5 juta jiwa. Kalau satu hari saja satu orang bisa memakai 10 batang dupa, bayangkan berapa ton dupa yang didatangkan ke Bali. Bahkan saya melihat fenomena di pasar banyak dupa yang berasal dari luar Bali, seperti dupa Cina, Jawa dan India. Rasanya aneh kalau kita orang Bali masih bergantung dengan orang luar dalam memproduksi dupa. Bagi saya bisnis dupa ini tak profit oriented, jadi masih ada unsur Yadnya didalamnya. Apalagi produksi dupa ini bisa dilakukan secara handmade, tidak menggunakan mesin.
Bisa diberikan bayangan bagaimana proses pembuatan dupa secara handmade ?
Kalau dikerjakan sendiri itu biasanya dengan cara di giling sehingga terbentuklah dupa. Bahan-bahannya berupa madu dan bahan Cendana. Sekarang dupa itu macamnya banyak, ada yg import, lokal, khusus aromaterapi. Nah disinilah kita harus tahu produk kita arahnya mau kemana.
Pabriknya dimana ?
Dupa Kaori pabriknya di Ubud. Hanya saja ada yang beberapa di kerjakan di Singaraja seperti dalam hal pengemasan barang. Proses produksi sepeti memilah-milah bahan hingga mencelupkan dupa dilakukan di Ubud. Kalau di Denpasar hanya kantor pemasarannya saja.
Lalu bagaimana Kaori bersaing dengan dupa-dupa lainnya di Bali ?
Wah, kalau boleh jujur sebelum produk dupa Pasupati Kaori, dupa kami itu kalah saing dengan dupa-dupa di pasaran. Pesaing dupa di pasaran cukup banyak. Terutama dari segi harga kami kalah saing. Di pasaran justru orang-orang banyak beli dupa kiloan biar mendapatkan harga yang murah tapi mereka tidak tahu kalau harum dupa itu tak bertahan cukup lama. Produsen-produsen dupa sekarang pintar mengakali. Ada beberapa dari mereka hanya menyemprotkan wewangian di bungkusan dupanya saja, agar dupa terkesan harum.
Jadi Pasupati Kaori itu produk unggulan Anda? Kenapa bisa terpikirkan untuk membuat dupa Pasupati?
Bisa dibilang begitu. Sederhana saja, ini berawal dari pengalaman anak saya. Waktu kecil dia seringkali menangis tanpa alasan yang jelas. Maunya saya cek dia ke dokter, tapi karena tak ada tanda-tanda sakit jadi saya batalkan niat itu. Bertanyalah saya dengan instruktur yoga saya. Ia pun menyarankan saya untuk menyalakan sebelas batang dupa di depan rumah sebelah kiri. Saya ikuti saran beliau. Kemudian beliau transfer energi, tak lebih dari 15 menit anak saya tak menangis lagi. Nah lantas saya kepikiran begini, bagaimana kalau ada kejadian yang serupa menimpa ibu-ibu lainnya, pasti mereka kebingungan. Untuk itu saya mendiskusikan hal tersebut dengan instruktur-instruktur yoga saya tersebut. Apakah bisa saya membuat dupa yang sudah dipasupati untuk menghalau energi negatif.
IMG_3729Dipasupati itu maksudnya bagaimana?
Pasupati itu maksudnya memberi mantra-mantra gaib pada setiap dupa. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, kami pun di ijinkan untuk menyebarluaskan produk kami ini. Ternyata respon masyarakat lumayan. Mereka pun membuktikan sendiri saat menyalakan 11 batang dupa Pasupati ini, anak mereka pun jarang menangis lagi. Dupa ini mampu menghalau aura negatif yang datang dari luar. Sederhananya, dupa ini sebagai sarana keselamatan. Dupa Pasupati Kaori ini pun kami pisahkan dari dupa-dupa Kaori yang lain dan kami beri tanda gelang Tridatu.
Apakah sebelumnya produk Dupa Pasupati sejenis sudah ada yang memproduksi di pasaran ?
Sepengetahuan saya sih belum. Baru semenjak dupa Pasupati Kaori berada di pasaran, muncullah dupa-dupa pasupati lainnya. Jadi kami istilahnya jadi trendsetter. Tapi selagi persaingannya sehat, tidak masalah bagi kami untuk menghadapi produk-produk yang sejenis dengan dupa Pasupati Kaori.
Berapa banyak karyawan yang Anda miliki untuk memproduksi Dupa Kaori ?
Kami mendayagunakan tenaga ibu-ibu yang ada di desa Ubud dan Singaraja untuk membantu proses produksi secara homemade. Kita ada 110 tenaga kerja yang terlibat dalam produksi ini.
Bagaimana bentuk promosi dupa Kaori ?
Kita membuka agen di setiap Kabupaten di Bali, memasang iklan di radio-radio sekaligus kami membuattalkshow yang menghadirkan praktisi yoga perihal dupa pasupati. Talkshow ini juga ampuh untuk lebih mendekatkan kami dengan pelanggan. Di talkshow tersebut mereka bisa sharing pengalaman memakai dupa Kaori. Oh ya, kami juga sempat mengadakan acara gebrak pasar, seperti pasar Gianyar, Kumbasari hingga pasar Kidul Bangli. Nah saat kami ke pasar Kumbasari, ada seorang ibu yang menghampiri saya dan memberikan testimoni tentang pengalamannya memakai dupa Kaori.
Dalam hal promosi tidak ada kesulitan?
Awalnya cukup mendapat kesulitan, karena Kaori juga tergolong pendatang baru dalam bisnis dupa, sehingga perlu waktu untuk branding produk kami agar dikenal oleh masyarakat luas. Perlu semacam trik-trik atau strategi khusus untuk membuat mereka langsung ingat Kaori kalau mau beli dupa pasupati. Kurang lebih dua tahun lah untuk branding.
Kendala berbinis dupa sejauh ini?
Sejauh ini kami masih banyak kendala dalam hal pengadaan bahan-bahan produksi. Terutama bahan-bahan lokal sangat susah ditemukan di pasaran seperti salah satunya kayu Cendana. Justru kalau dupa yang bahan dasarnya seperti serbuk kayu dan prosesnya menggunakan mesin, malah jarang muncul kendala. Oh ya kami ingin menekankan kalau dupa kami melalui dua proses produksi yakni ada yang diproses mesin danhandmade. Produksi dupa secara handmade dengan bahan-bahan lokal yang berkualitas sehingga membuat harga produksinya membengkak dan dijual pun akan lebih mahal.
Apakah dupa-dupa Kaori hanya dijual di Bali ?
Tidak, kami juga menjual ke Jawa, Lombok, Sumatra, Sulawesi, Lampung dan Kalimantan. Disana sudah dipersiapkan agen-agennya.
Adakah produk unik lainnya yang dikeluarkan Kaori?
Kami juga merambah ke dunia pengobatan melalui air pasupati Kaori. Kami bekerjasama dengan perusahaan minum Nonmin, dimana untuk proses pasupatinya dikerjakan oleh Kaori. Ya ini produknya terbatas. Air ini bisa dipercikkan atau diminum oleh orang yang bersangkutan, agar terhindar dari penyakit dan aura negatif lainnya.
Apakah keluarga Anda memiliki latar belakang bisnis? Mengapa Anda bisa kepincut di jalur bisnis?
Saya sebenarnya dari keluarga seniman, ibu penari dan bapak pelukis. Saya terinspirasi dari semangat ibu saya yang single parent, tapi mampu mencukupi kebutuhan keluarga dengan memiliki usaha eksportir wig. Saya juga banyak belajar bisnis dari Ibu saya. Ini juga yang membuat saya bercita-cita untuk bisa memberdayakan banyak orang dalam usaha saya. Tapi awalnya belum tercetus mau bikin usaha apa. Sampai akhirnya mau masuk kuliah, saya pun membuka usaha kecil-kecilan seperti jualan boneka dan aksesoris yang targetnya anak-anak sekolahan di Ubud. Saya pun membuat 5 toko aksesoris di Ubud, namanya Toko Cinta. Sampai saat ini pun toko-toko tersebut masih beroperasi.
Apakah darah seniman juga mengalir di tubuh Anda?
Ya, saya itu hobi menari dan dulunya seorang penari di Ubud. Saya dulu sering nari di Puri Ubud
Bagaimana Anda tetap bisa mengeksiskan hobi menari tersebut ditengah kesibukan sebagai pebisnis ?
Demi merawat kecintaan saya terhadap seni tari dengan membuka sebuah sanggar tari di Ubud namanya Sanggar Yuhura. Ini didirikan 3 Oktober 2011 lalu dan suami saya mendukung penuh ide saya tersebut. Hanya berbekal gong, saya pun menjalankan sanggar tari ini. Sampai akhirnya pada April 2012 lalu sanggar ini sempat ditawari pentas di Malaysia.
Anda juga punya usaha butik Kaori Luxurious, bagaimana bisa tercetus ide berbisnis di bidang fashion ?
Saya juga punya hobi ngoleksi tas. Banyak teman-teman bertanya di mana saya membeli tas-tas tersebut. Saya juga suka membuat desain busana Endek sendiri. Dari sanalah saya punya keberanian untuk membuat butik Kaori Luxurious ini. Di sini, saya juga menjual sepatu, sandal, dan aneka aksesoris wanita lainnya.
Berarti Anda punya hobi shopping juga dong?
Duh daripada uangnya di buat shopping, mending saya tabung buat beli bahan baku dupa. Hehehe…!
Anda cenderung menyukai model tas seperti apa? Harus bermerk kah?
Saya malah lebih suka beli tas daur ulang. Nggak kalah kok dengan kualitas tas impor dan bermerk.
Bagaimana membagi waktu dengan keluarga?
Kalau weekend , saya fokus untuk keluarga. Tidak mau memikirkan pekerjaan. Ya biasanya saya dan keluarga senang menghabiskan liburan ke desa atau mengunjungi kebun binatang.
Pernah punya cita-cita selain jadi pengusaha?
Sempat ingin menjadi pegawai bank. Pernah saya magang di bank demi tugas KPL kuliah. Tapi kemudian saya berubah pikiran, ternyata kerja di bank lebih ribet. Ya kayaknya memang enak kalau bisa berwirausaha sendiri seperti sekarang.
Anda Jegeg Bali 2005, mengapa Anda tertarik mengikuti ajang tersebut ?
Kebetulan saat kuliah di Unud, saya diajak teman untuk ikutan ajang Jegeg Bagus. Jadi ya iseng-iseng aja ikut. Ajang ini juga memberikan banyak wawasan untuk menjadi seorang duta wisata Bali. Ajang ini memberikan banyak motivasi dan kepercayaan diri lebih pada saya. Melalui Jegeg Bali, saya bisa mempromosikan Bali hingga ke Thailand. Di sana saya melihat kalau Bali benar-benar disanjung dan punya kesan yang luar biasa. Beda kalau kita melihatnya di dalam Bali sendiri, mungkin kesannya biasa-biasa saja ya.
Sejak kapan Anda tertarik untuk Yoga?
Saya sejak SMA sudah diperkenalkan aktivitas Yoga Tantra. Biasanya setelah selesai sembahyang, saya melakukan yoga untuk mendapatkan ketenangan. Saat itu ada teman yang mengajak saya untuk ikutan yoga dan bertemu instruktur khusus. Awalnya memang susah konsentrasi, tapi sekarang sudah lebih bisa fokus. Saya yoga setiap hari, kalau nggak yoga ngerasa ada yang kurang.

Produsen Dupa Kabupaten Malang Pemasok Kebutuhan Bali

Kalangan Tionghoa maupun penganut Hindu, kerapkali menggunakan dupa, sebagai pelengkap yang selalu ada dalam ibadahnya. Ibarat makan yang sampai tiga kali sehari, begitu pula kebutuhan dupa ini bagi mereka. Bali menjadi satu tempat yang paling besar konsumsi dupa tersebut. Namun ternyata, Malang menjadi produsen dupa untuk menyuplai kebutuhan Bali.

Malang Post mencoba menelusuri salah satu produsen dupa, di Kabupaten Malang. Tepatnya di Jalan Moncowarno Desa Bendo Kecamatan Pakisaji. Ada sebuah home industri yang memproduksi dupa. Namanya Terang Jaya Dupa. Sebuah produsen dupa, yang memasarkan hasil produksinya jauh ke Pulau Bali.

’’Lebih tepatnya sebagian besar memang distribusi dupa kami di Bali. Kami jadi distributor untuk suplier di sana. Bentuknya masih dupa mentahan,’’ ungkap owner Terang Jaya Dupa, Martha Yuliana Siswanto.

Dupa masih mentahan, sebab tidak ada packing dupa siap jual seperti di pasaran. Yang ada, dupa masih berwarna abu-abu untuk bagian badan yang biasa dibakar.

’’Masih alami. Berupa warna dasar yang didapatkan dari kopyokan atau olahan kalsium, batok kelapa, serbuk sisa pemotongan pohon dan soda api. Nanti ketika di suplier di Bali, mereka yang menambah warna dan packing dengan merek sendiri,’’ papar dia panjang lebar.

Menurut dia, usaha dupa ini sudah berlangsung sejak enam tahun lalu. Berawal dari rasa penasaran ketika berkunjung ke Bali dan ada seorang suplier yang menyebutkan, jika di Malang potensi memproduksi dupa sangat bagus.

Sejak itulah, orang tua Martha menekuni bisnis ini. Sebab, memang benar, ketersediaan bahan baku di Kabupaten Malang khususnya, sangat melimpah. Misalnya saja bambu sebagai bahan baku bitingan dupa. Selain itu serbuk dari kayu yang menjadi bahan campuran dupa itu sendiri.

Martha yang mulai berani mengelola usaha ini tiga tahun terakhir menyebutkan, ketersediaan bahan ini, membuat produksinya tergolong besar. Dengan 16 pekerja yang dibagi dalam empat bagian pekerjaan, kini Terang Jaya Dupa memproduksi 500 kg dupa per hari.

’’Pembagian pekerjanya mulai dari pembuat bitingan dupa dari bambu. Lalu pengolah dupa, bagian packing dan bagian umum. Tetapi kadang juga bisa mengerjakan semua,’’ beber dia.
Dia mengakui, proses membuat dupa mentahan ini, masih secara manual. Sehingga, kapasitas produksinya juga masih di kisaran 500 kg per hari.

Padahal, proses pembuatan dupa ini sangatlah mudah. Mulai dari pembuatan bitingan sebagai langkah awal. Ukurannya sesuai dengan permintaan, bisa 22 cm, 28 cm, 32 cm atau 36 cm.  Begitu selesai, bagian bawah bitingan diberi warna untuk batas isian dupa dengan gagangya.

’’Di tempat ini gagangan cuma terdiri dari dua warna. Antara merah atau hitam. Kecuali ada request. Setelah diwarnai dijemur selama 6-8 jam tergantung terik matahari,’’ urai perempuan yang hobi traveling ini.

Setelah pewarnaan gagang selesai, masuk ke proses pembuatan badan dupa. Melalui olahan kalsium, serbuk pohon hingga soda api yang terdiri dari tiga tahap. Perlu kecermatan di proses ini, bila tidak dupa akan susah dibakar atau justru tidak bisa dibakar. Setelah itu dianginkan sejenak agar kering, sebelum masuk ke proses terakhir, yakni packing.

Packingan berisi 40 kilogram dupa. Jadi dalam sehari, bisa menghasilkan 12-13 ball dupa. Menurut perempuan yang pernah mengambil pendidikan di Universitas Ciputra ini, setelah berjumlah empat ton, tiba waktu pengiriman.

Perempuan yang mengaku sebagai Hitaci (Hitam tapi Cina) ini mamaparkan, pengiriman berlangsung seminggu sekali. Dalam sebulan rata-rata antara 4-5 kali pengiriman, dengan omzet di kisaran Rp 30-40 juta per pengiriman. ‘’Yang pasti tiap minggu pasti kirim ke Bali,’’ tegas dia.

Apalagi, permintaan meningkat ketika menjelang hari raya di Bali. Misalnya Maret ini akan ada Nyepi. Permintaan meningkat hingga 50 persen. Hal ini membuat pegawai terkadang lembur untuk mengejar target. Menurutnya tidak masalah, sebab pegawainya juga berasal dari desa sekitar. Apalagi, bila mereka enggan pulang, juga tersedia mess di lokasi produksi.

Ketika disinggung tidak inginkah melebarkan sayap untuk distribusinya, dia mengakui bisa jadi. Sebab, sudah ada penawaran untuk pengiriman dupa ke wilayah Asia. ‘’Dari Thailand dan Myanmar sempat menawari. Tetapi belum siap produksi bila dalam waktu dekat,’’ pungkas dia.