Friday, December 19, 2014

Memberdayakan Warga Melalui Dupa Herbal

Selama ini suplai dupa memang masih dikuasai oleh produsen-produsen di luar Bali khususnya daerah Jawa.

Memberdayakan Warga Melalui Dupa HerbalI Made Dwija Nurjaya (dok pribadi via Kontan)
Peluang bisnis dupa di Bali memang sangat menggiurkan. Dalam sehari, satu keluarga di Bali bisa menggunakan sebanyak 15 dupa untuk upacara keagamaan harian. Jika mayoritas keluarga-keluarga di Bali menggunakan dupa setiap hari, ceruk bisnis memproduksi dupa tentu cukup besar.

Melihat peluang bisnis itulah, I Made Dwija Nurjaya membidik bisnis ini denganmemberdayakan masyarakat Bali di lingkungannya. Melihat hal itu, Dwija mantap menjalankan bisnis ini agar warga di Bali tidak lagi bergantung pada produk dupa dari luar Bali. Berbekal pengalaman bekerja di salah satu sektor usaha kreatif di Bali, Dwija mencoba mendirikan usaha sendiri di tahun 2003 silam.

Dwija mengatakan, selama ini suplai dupa memang masih dikuasai oleh produsen-produsen di luar Bali khususnya daerah Jawa. Selain itu, produksi dupa dari China juga cukup mendominasi suplai dupa di Bali, selain India. Dia bilang, lantaran kebutuhan dupa di Bali sangat tinggi, tidak heran jika kiriman dupa dari luar pulau Bali bisa mencapai 10 ton dalam sehari.

Sekitar lima ton dupa berasal dari luar Bali terutama dari daerah-daerah di Jawa. Sebagian lagi impor dari sejumlah negara seperti China. Jika bagian impor bisa diambil alih oleh produsen lokal di Bali, maka hitung-hitungan keuntungan yang bisa diraih tentu cukup menggiurkan.

Meskipun pasokan dupa masih di dominasi oleh dupa dari Jawa dan impor, pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Bali ini mencoba untuk menjadi pemasok utama di daerahnya sendiri, terlebih untuk dupa herbal buatannya. Ia mengklaim hanya dirinya yang memproduksi dupa herbal di Bali bahkan di Indonesia.

Dalam segi pemasaran, Dwija hanya memasarkan dupa herbal buatannya melalui mulut ke mulut dan melalui online. Dwija merasa tak menemui kesulitan untuk memasarkan karena dupa buatannya punya karakteristik khusus, yakni berbahan baku herbal. "Saya disarankan oleh pihak pemkot Bali supaya dupa herbal ini memiliki ciri khas," ujar Dwija
Kini, ia dipercaya untuk tetap memasok dupa ke sejumlah daerah yang ada di Bali. Lewat bisnis dupa herbal ini, di tahun 2013 lalu Dwija diganjar penghargaan "Sarana Budaya Ekonomi Kreatif" oleh pemerintah kota di Bali.

Saat ini ia sedang fokus menjadikan usahanya semakin berkembang dan menjadi satu-satunya pemasok dupa herbal utama di Bali, sehingga warga Bali tidak lagi memiliki ketergantungan kepada daerah lain.

Menurut Dwija, faktor penting yang mendorong usaha berkembang, karena ia memberdayakan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya untuk memproduksi dupa.

Modal Awal Rp 300 Ribu, Kini Omzet Milyaran Rupiah

Modal Awal Rp 300 Ribu, Kini Omzet Milyaran RupiahSumber Foto : beritabali.com
Beritabali.com, Gianyar. Berawal dari rasa jengah (termotivasi) untuk maju dan menjadi orang sukses,  Ketut Purnama memutuskan untuk memilih profesi dagang sebagai mata pencaharian hidup. Dan kini terbukti pilihannya itu tidak keliru. Dari modal usaha awal yang hanya Rp 300 ribu, usaha Ketut kini berkembang pesat dengan aset mencapai milyaran rupiah.
      
"Ini semua berawal dari rasa jengah, saat saya bekerja di Kuta 12 tahun lalu. Waktu itu saya punya pemikiran, kok di Kuta masyarakat Bali seperti terpinggirkan. Yang jualan di Kuta, semuanya orang dari luar Bali, tidak ada orang Bali yang dagang di sana. Mulai asesoris hingga makanan, semua yang jualan dari luar Bali," ujar Ketut, saat dijumpai di lokasi usahanya, di Desa Keramas, Gianyar, belum lama ini.
      
Karena rasa jengah, termotivasi  untuk maju, Ketut kemudian mulai mencoba bisnis kecil-kecilan. Dengan modal awal Rp 300 ribu, ia mulai mencoba bisnis handycraft atau kerajinan tangan.
      
"Modalnya Rp 300 ribu, itu uang untuk beli celana jins sebenarnya. Saya kemudian mulai coba bisnis jadi pemasok dupa untuk aroma terapi ke Kuta, dan syukur ini kemudian berkembang hingga akhirnya bisa seperti sekarang ini,"ujarnya.
      
Dunia dagang, kata Ketut, sudah mulai digeluti sejak kecil. Waktu kecil, ia sudah mulai bisnis mercon. " Dari kecil saya sudah dagang mercon, beli mercon di Gianyar lalu jual di Keramas. Beli Rp 25, lalu jual Rp 75,"kenangnya.
      
Hobi dagang, kemudian diteruskan saat ia kuliah di Kota Gudeg Yogyakarta tahun 1996. Waktu itu Ketut membawa Bed Cover dari Bali untuk dijual di Yogyakarta. Setamat kuliah, Ketut kemudian mencoba bisnis barang kerajinan. Ia membeli kerajinan bebek dari akar bambu di Klaten untuk dijual di Bali."Kerajinan bebek dari akar bambu dari Klaten ini saya jual ke Ubud dan Kuta, dan ternyata laku," ujarnya.
Tahun 2001 Ketut mulai serius terjun di dunia dagang dengan menjadi pemasok dupa dan lilis untuk aroma terapi. Produknya dipasarkan di sejumlah lokasi di wilayah Kuta dan Nusa Dua.
      
Setelah sukses di bisnis dupa, lilin, dan produk aroma terapi lainnya, tahun 2009 Ketut mulai melirik bisnis oleh-oleh khas Bali dan minimarket.
"Tahun 2009 saya mencoba bisnis oleh-oleh dan minimarket di Kuta, yakni Q Mart dan Wake Bali Art Market. Saat ini Q Mart sudah berkembang menjadi 16 buah di  wilayah Kuta, Gianyar, dan Denpasar,"jelasnya.
      
Sukses di bisnis minimarket dan toko oleh-oleh, Ketut merambah bisnis lainnya seperti bisnis properti dan sekolah mulai tingkat playgroup, TK, hingga SD pada tahun 2010. Terakhir, di tahun 2013 Ketut Purnama membuka usaha wisata adventure di kampung halamannya di Desa Keramas. Usaha wisata adventure ini diberi nama Wake Bali Adventure.
      
Kini, usaha Ketut semakin berkembang dengan jumlah karyawan mencapai 400 orang karyawan. Dengan modal awal usaha Rp 300 ribu, kini perputaran roda bisnisnya sudah menghasilkan omzet penghasilan milyaran rupiah.
     
Bagi Ketut, dunia dagang itu dunia yang sangt menarik, menjanjikan dibanding dunia pekerjaan lainnya. Di dunia dagang, ada banyak tantangan dan pelajaran yang bisa didapat, selain pergaulan yang dinamis.
      
Terkait masih minimnya orang Bali yang menekuni dunia dagang seperti dirinya, Ketut menyatakan ini lebih disebabkan oleh kurangnya faktor keberanian dalam memulai sebuah usaha.
      
"Keberanian orang Bali itu banyak, judi dia berani, tapi ketika diajak terjun ke bisnis kok jadi takut. Orang Bali condong ingin cepat datangkan hasil, tidak mau investasi di awal,"ujar pria kelahiran Gianyar, 25 Oktober 1975 ini. (dev)

Wirausaha: Sukses Bisnis "Dupa Ayur" Made Dwija Wijaya

Wisata wirausaha saya di Bali selanjutnya adalah mengunjungi usaha Bli Made Dwija Wijaya. Kisah usahanya dituturkan I Made Dwija Wijaya, pemilik usaha pembuatan dupa bernama Dupa Ayur di Denpasar. Kisah nya dari keprihatinan dan semangat untuk merubah menjadi kondisi masyarakat disekitar tempat tinggal bli Made, banyak nya kriminalitas yang berkembang dan praktek prostitusi dari para pendatang di wilayah tempat tinggal nya membuat Bli Made memutar otak untuk bagaimana cara jita untuk mempengaruhi masyarakat untuk berubah. Bli Made memulai "pergerakan" yang mengkombinasikan antara pendekatan Spiritual (bukan agama) dan Social Economic. "Kalo ekonomi nya terpenuhi maka spiritual nya akan mudah untuk diperbaiki" ujar nya. 

Pria yang sangat sederhana ini merintis usaha ini pada 2003 namun baru benar-benar beroperasi secara komersial pada 2005. Keputusannya membuat usaha dupa dipicu oleh kenyataan bahwa kebutuhan dupa di Bali justru banyak bergantung dari wilayah di luar Bali. Padahal, dupa merupakan sarana penting dalam kegiatan kegamaan di Bali. “Bayangkan, setiap hari ada 10 ton dupa yang datang dari luar Bali,” tutur Made Dwija.


Made Dwija Wijaya bersama karyawan nya yang rata-rata ibu ramh tangga

Selama periode awal usahanya, Made Dwija mengaku banyak merugi. Saat itu, dia masih belum menemukan komposisi yang tepat supaya bisa untung. Seringkali dengan harga dupa yang dijual ternyata tidak menutupi biaya produksi. “Baru pada 2005 saya menemukan ekulibrium, kira-kira untruk bisa untung, komposisinya seperti apa,” kenang dia. Sejak itu, perlahan demi perlahan, usaha Made Dwija mulai berkembang.

Ibu-ibu yang menfaatkan waktu luang bekerja membuat dupa

Apalagi sejak mendapat bantuan pendanaan dari PT Sarana Bali Ventura, perusahaan di bidang modal ventura. Usaha pembuatan dupa yang semula hanya dikerjakan 8 tenaga kerja kini melibatkan 50 tenaga kerja yang berasal dari masyarakat sekitar. Uniknya, seluruh pekerja di Dupa Ayur adalah perempuan. “Ini adalah bagian dari pemberdayaan masyarakat, karena memang menjadi salah satu tujuan saya saat membuka usaha dupa,” ungkap Made Dwija.

Dupa Ayur

Bli Made Dwija memanfaatkan para ibu-ibu rumah tangga yang ada di sekitar rumah nya untuk menjdi karyawan dan bersama-sama merintis usaha ini. Saya tanyakan, kenapa ibu-ibu rumah tangga bli?...."Karena ibu-ibu rumah tangga lebih teliti dan bertanggung jawab dibanding pria nya, dan mereka mau bekerja lebih rajin" jawab Made.



Saat ini produksi Dupa Ayur mencapai 25 ribu batang dupa per hari dengan omzet rata-rata Rp 200 juta per bulan. Berbeda dengan dupa pada umumnya, dupa yang diproduksi Dupa Ayur menggunakan bahan baku rempah-rempah. “Untuk dupa berbahan baku rempah-rempah ini belum ada yang produksi di Bali, sehinga bisa dibilang belum ada pesaing,” singkap Made Dwija.